Beranda » KAJIAN AGAMA » AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH

AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH

T Diposting oleh pada 21 Januari 2017
F Kategori ,
b Belum ada komentar
@ Dilihat 378 kali

Oleh. Ujang.

(Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang

  1. PENDAHULUANujang foto

Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam kehidupan, agar mereka selalu hidup sesuai dengan petunjuk dan aturan ciptaan Allah. Untuk memudahkan manusia mengenal petunjuk tersebut, maka Allah SWT menurunkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk menjadi orang yang bertakwa. Hal ini Allah sebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 2 :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya : “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”[1]

Al-Qur’an tidak hanya memuat petunjuk berupa perintah dan larangan saja, bahkan di dalamnya juga terdapat kisah-kisah umat terdahulu, kalimat-kalimat sumpah, dan sebagainya. Bahkan, di dalamnya juga terkandung redaksi ayat yang ditampilkan dalam bentuk perumpamaan yang berisi penyamaan sesuatu yang abstrak dan tidak bisa dipahami manusia secara langsung dengan sesuatu yang bersifat konkrit dan mudah dipahami manusia. Maka, dalam pembahasan berikutnya, penulis akan menguraikan pembahasan tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut yang dalam ‘Ulum al-Qur’an disebut dengan Amtsal al-Qur’an.

 

  1. PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Amtsal atau Matsal

Secara etimologi, sebagaimana dijelaskan Manna’ Khalil al-Qathan,[2] amtsal ialah :

الأمثال : جمع مثل, و المثل و المثل و المثيل : كالشبه و الشبه و الشبيه لفظا و معنى

“Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal, kata matsal, mitsil dan matsil sama dengan syabah, syibh dan syabih, baik lafaz maupun maknanya.”

Demikian juga halnya dengan Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, sebagaimana dikutip oleh Supiana dan M. Karman,[3]  kata amtsal merupakan bentuk jamak dari matsal yang berarti serupa atau sama.

Sedangkan dalam sastra, matsal adalah :

قول محكي سائر يقصد به تشيبه حال الذى حكى فيه بحال الذى قيل لأجله, أي يشبه مضربه بمورده

“Suatu perkataan yang dihikayatkan dan sudah populer dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapkan. Artinya menyerupakan sesuatu dengan apa yang terkadung dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu.”

Misalnya :

رب رمية من غير رام

“Betapa banyak lemparan panah yang mengena tanpa sengaja”

Manna’ Khalil al-Qathan menjelaskan makna ungkapan tersebut, betapa banyak lemparan panah yang mengenai sasaran itu dilakukan seorang pelempar yang biasanya tidak tepat lemparannya. Orang pertama yang mengucapkan matsal ini, sebagaimana dijelaskan Penulis buku Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an tersebut ialah al-Hakam bin Yagus an-Nagri. Matsal ini ia katakan kepada orang yang biasanya berbuat salah yang kadang-kadang ia berbuat benar.

Kata matsal juga digunakan untuk menunjukkan arti keadaan  dan kisah yang menakjubkan. Oleh sebab itu, lafaz matsal dalam banyak ayat ditafsirkan dengan makna ini. Seperti,

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

Artinya : “Perumpamaan-perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payaudan sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya,dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murn. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?”  (Muhammad : 15)[4]

Maksud matsal dalam ayat tersebut, sebagaimana dikutip Manna Khalil al-Qathan ialah kisah dan sifat surga yang sangat mengagumkan.[5]

Sedangkan M. Quraish Shihab,[6] menjelaskan bahwa kata amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal yang mempunyai banyak arti, antara lain : keserupaan, keseimbangan, kadar sesuatu, yang menakjubkan atau mengherankan, dan pelajaran yang dapat dipetik, di samping berarti pribahasa.

Menurutnya, ada perbedaan antara  matsal dan mitsil. Kata mitsil berarti kesamaan dan kata matsal  berarti keserupaan. Maka QS. Muhammad : 15 di atas, melukiskan betapa menakjubkan surga sekaligus menggarisbawahi bahwa yang dilukiskan di sini bukan persamaan, tetapi sekedar keserupaan, yakni hakikat surga dan kenikmatannya tidak sama dengan apa yang terlukiskan dengan kata-kata ayat ini, ia hanya serupa.

Akhirnya, setelah mengemukakan banyak pendapat tentang makna amtsal al-Qur’an, Manna’ Khalil al-Qathan menyampaikan bahwa amtsal al-Qur’an tidak dapat diartikan dengan makna etimologis saja, juga tidak dapat diartikan dengan pengertian yang disebutkan dalam kitab-kitab kebahasaan. Oleh sebab itu, ia menyimpulkan pengertian amtsal al-Qur’an ialah :[7]

إبراز المعنى فى صورة رائعة موجزة لها وقعها فى النفس, سواء كانت تشبيها أو قولا مرسلا

“Menonjolkan makna dalam bentuk (perkataan) yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas”.

Dari berbagai pengertian tersebut, inti yang terkandung dalam setiap ayat-ayat berbentuk amtsal ini ialah gaya bahasa yang menampilkan kesan yang membekas ke dalam jiwa dengan cara menyamakan sesuatu yang tidak mampu dijangkau pancaindera manusia (abstrak) menjadi sesuatu yang abstrak dan mudah dipahami. Dengan cara ini, pemahaman seseorang lebih mudah dan memberikan kesan yang mendalam terhadap ayat yang dipahami.

Inilah sebabnya, Muhammad Mahmud Hijazi, pengarang Tafsir al-Wadhih, sebagaimana dikutip oleh Rosihon Anwar, menyatakan dalam kitab tafsirnya bahwa bentuk amtsal yang rumit merupakan inti sebuah kalimat yang sangat berdampak bagi jiwa dab berbekas bagi akal.[8] Memberikan bekas bagi akal dan meimbulkan kesan yang mendalam bagi jiwa inilah salah satu inti ayat-ayat berbentuk amtsal tersebut.

Menguatkan keberadaan ayat-ayat amtsal dalam al-Qur’an, maka al-Suyuthi dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an,[9] mengemukakan sebuah hadis yang diriwayatkan al-Baihaqi dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda :

ان القران نزل على خمسة أوجه : حلال و حرام و محكم و متشابه و أمثال, فاعلموا بالحلال واجتنبوا الحرام واتبعوا المحكم و أمنوا بالمتشابه و اعتبروا بالأمثال.

“Bahwa al-Qur’an diturunkan dalam lima bentuk : yaitu halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal. Maka ketahuilah yang halal, jauhilah yang haram, ikutilah yang muhkam, berimanlah dengan yang mutasyabih dan ambillah pelajaran terhadap ayat-ayat amtsal.”

Demikian banyak dan tegasnya pernyataan dan pendapat para ulama tentang keberadaan ayat-ayat yang ditampilkan dalam bentuk amtsal. Sehingga di dalam beberapa ayat al-Qur’an sendiri ditemukan beberapa ayat yang menegaskan bahwa Allah swt telah menbuat berbagai perumpamaan di dalam al-Qur’an yang memiliki tujuan yang sangat berguna bagi akal manusia dalam memahami makna yang disampaikan ayat tersebut. Di antaranya ialah :

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآَنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya : “Dan sungguh, telah kami buatkan dalam al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat pelajaran”. (QS. Al-Zumar : 27)[10]

Hal senada juga disebutkan dalam ayat berikut :

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Artinya : “Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat untuk manusia, dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu”. (QS. Al-Ankabut : 43)[11]

Dari pemahaman teks kedua ayat itu terlihat bahwa Allah memang sengaja mendatangkan ayat-ayat dengan pola amtsal (berbentuk perumpamaan) yang bertujuan agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya serta menggunakan potensi akalnya untuk merenungi makna perumpamaan yang disampaikan.

  1. Quraish Shihab,[12] menjelaskan bahwa matsal (dalam bahasan sastrawan biasa disebut dengan peribahasa) sifatnya singkat, indah, mengandung makna yang dalam, dan populer dalam masyarakat karena sering diucapkan. Sedangkan amtsal al-Qur’an tidak sepenuhnya demikian. Ia merupakan tujuan al-Qur’an menghadirkannya bersifat panjang dan tidak selalu populer dalam masyarakat.

Menurutnya amtsal al-Qur’an panjang karena ia mempersamakan sesuatu dengan beberapa hal yang saling kait berkait. Mayoritas ulama tafsir masa lampau memahami dan menafsirkan matsal al-Qur’an sebagai satu kesatuan utuh tanpa memperhatikan bagian demi bagian dari matsal al-Qur’an itu. Mereka membatasi makna yang dikandung oleh matsal pada makna global yang dikandung oleh kesatuan susunan kata-katanya. Adapun unsur yang ditampilkan dalam susunannya, maka bagian demi bagian itu, mereka tidak merasa perlu untuk menjadikannya fokus dan tujuan dalam memahami makna amtsal al-Quran.

Di sisi lain, menurutnya, pandangan ini tidak diterima oleh banyak penafsir kontemporer. Karena itu, mereka memperhatikan bukan saja matsal dalam kedudukannya sebagai satu kesatuan susunan kata-kata, tetapi juga berusaha memahami dan menarik makna, hikmah dan pelajaran dari bagian demi bagian matsal yang ditafsirkannya. Mereka menganalisisnya, lalu menarik dari masing-masing bagian makna dan hikmah, di samping memahami matsal pada ayat yang mereka tafsirkan sebagai satu kesatuan.

Sebagai contoh penafsiran ulama Mesir, Bahy al-Khuly dalam bukunya Tadzkirat al-Du’ah tentang ayat berikut :

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Artinya : “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya tetapi bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (QS. Al-Ra’du : 17)[13]

Ulama Mesir yang dikutip Quraish Shihab tersebut menjelaskan bahwa apa yang dikemukakan dalam ayat tersebut dapat disaksikan sehari-hari. Makna lahiriahnya pun jelas, tetapi di balik makna lahiriah itu ada makna-makna lain yang dapat ditarik dari setiap bagian dari matsal ini.

Hujan yang disebutkan di ayat ialah tuntunan Rasul saw. Kawasan yang menerima curahan hujan ialah sasaran dakwah. Tuntunan itu mengalir ke dalam hati sasaran dakwah, sebagaimana lembah yang dihujani. Berapa luas kadar lembah itu, maka sedemikian itu pula air yang dapat ditampungnya, dalam arti berapa luas kadar hati manusia, sebanyak itu juga petunjuk yang dapat ditampungnya.

Matsal tersebut tidak berhenti di sana, tetapi masih ada sesuatu yang penting yang dikemukakannya, yaitu bahwa air tersebut membawa buih yang mengambang. Buih nampak di permukaan air dengan jelas, tetapi dia sangat rapuh. Buih bukan bagian dari air dan sekejap saja ia menghilang, sedang air yang membawanya akan tetap tinggal. Ini gambaran dari yang hak dan yang batil. Kenatilan tidak jarang nampak jelas di permukaan, tetapi yakinlah bahwa dia tidak langgeng, kendati pada mulanya ia terlihat banyak. Di sisi lain setiap lembah memiliki kadar keluasannya dan sebanyak itu pula ia menampung air. Manusia juga demikian. Bila lembah menampung air melebihi kadarnya, maka kelebihan tersebut mengalir, lalu merusak sekitarnya. Demikian juga manusia, bila bertindak melebihi kadarnya ia akan merusak, serupa dengan lembah yang meluap dan yang berpotensi merusak itu.

[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya,(Jakarta : Karya Insan Indonesia, 2004),    hal. 2

[2] Manna’ Khalil al-Qathan, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (t.t : Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, 1973), hal.282

[3] Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran : Dan Pengenalan Metodologi Tafsir, (Bandung : Pustaka Islamika, 2002), hal. 253

[4] Departemen Agama  RI, op. cit., hal. 733

[5] Manna’ Khalil al-Qathan,  op cit., hal. 282

[6] M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir : Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat al-Qur’an, (Tangerang : Lentera Hati, 2013), hal. 267-268.

[7] Manna’ Khalil al-Qathan, op cit.,  hal. 283

[8] Rosihon Anwar, Pengantar Ulumul Qur’an, (Bandung : Pustaka Setia, 2009), cet. 1, hal. 108

[9] Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut : Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, 1996), jil. II, cet. 1, hal. 343

[10] Departemen Agama RI, op. cit., hal. 663

[11] Ibid., hal. 565

[12] M. Quraish Shihab, op. cit., hal. 264-269

[13] Departemen Agama RI, op. cit., hal. 339

(Bersambung ke bagian dua…)

Belum ada Komentar untuk AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH

buat website

Kisah Habib An-Najjar (Bag. Pertama)

T 6 Oktober 2015 F A admin

Nama lelaki di Surah Yaasiin itu, demikian dinyatakan ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, adalah Habib ibn Surri An-Najjar, seorang tukang kayu. Allah swt menjadikan sosok yang sesungguhnya tak disebut namanya di dalam wahyu ini sebagai teladan tentang cinta yang tak habis-habis... Selengkapnya

uj-2

Kala Dosa dianggap Biasa

T 21 Mei 2015 F A admin

Hati ibarat sebuah kaca, manakala selalu dirawat kebersihannya, maka ia akan selalu bersih dan mengkilat. Sedikit kotoran yang lekat akan terlihat jelas. Sebaliknya, dikala kaca dibiarkan berdebu dan tak pernah dibersihkan, maka ia akan semakin kotor dan sulit dibersihkan lagi.... Selengkapnya

Peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad SAW

Peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad SAW

T 3 Oktober 2016 F A admin

Oleh. Ujang (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang) A. PENDAHULUAN Nabi Muhammad SAW adalah figur, contoh, teladan dan tokoh yang paling mengagumkan dalam kehidupan umat manusia. Berbagai aspek kehididupan yang ia tempuh selalu menjadi teladan terbaik bagi umatnya. Tidak hanya... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

STATISTIK PENGUNJUNG

Statistik Pengunjung sejak 4 Januari 2016

Online : 3
Hari ini : _
Bulan ini : _
Total : _