Beranda » KAJIAN AGAMA » AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian ketiga)

AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian ketiga)

T Diposting oleh pada 21 Januari 2017
F Kategori ,
b Belum ada komentar
@ Dilihat 498 kali

Oleh. Ujang

(Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

 

ujang fotoMakna Tasybih

Jalal al-Din al-Suyuthi menjelaskan dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an beberapa pendapat yang dikemukakan ulama tentang pengertian tasyhbih, di antaranya :[1]

  1. Sekelompok (jamaah), di antaranya ialah al-Sukaki mendefinisikan sebagai :

الدلالة على مشاركة أمر لأمر فى معنى

“Petunjuk terhadap kesamaan satu hal dengan yang lain dalam makna”.

  1. Ibnu Abi al-Ishba’ berkata :

إخراج الأغمض إلى الأظهر

“Mengeluarkan yang paling samar menjadi yang paling nyata”

  1. Pendapat lain yang tidak disebutkan namanya oleh al-Suyuthi, menyebutkan :

إلحاق شيء بذي وصف في وصفه

“Menyamakan sesuatu dengan (sesuatu) yang memiliki satu sifat dalam sifatnya”.

Sedangkan Ali al-Jarim dan Mushthafa Amin dalam al-Balaghah al-Wadhihah, mendefinisikan tasybih sebagai,[2]

بيان أن شيئا أو أشياء شاركت غيرها فى صفة أو أكثر. بأداة هي الكاف أو نحوها ملفوظة أو ملحوظة

“Penjelasan bahwa sesuatu atau beberapa hal menyamai yang lain tentang satu sifat atau beberapa sifat, dengan adat berupa huruf “kaf” atau yang sejenis dengan dilafazkan atau perhatikan”

  1. Quraish Shihab,[3] juga menjadikan salah satu topic pembahasan dalam bukunya Kaidah Tafsir. Ia Memulai penjelasannya tentang tasybih dari pengertian secara bahasa yang berarti penyerupaan. Kemudian ia lanjutkan dengan menjelaskan makna tasybih dalam susastra Arab sebagai penyerupaan dua hal atau lebih dalam satu sifat pada dirinya.

Menurutnya, tasybih ini merupakan upaya melakukan perbandingan antara dua pihak atau lebih untuk menggambarkan keserupaan mereka dalam satu cirri/sifat atau lebih. Misalnya, ungkapan : “Si A laksana singa dalam keberaniannya.”

Maka tasybih menurutnya terdiri dari empat unsur :[4]

  1. Yang diserupakan (al-Musyabbah), dalam contoh tadi ialah si “A”.
  2. Yang diserupakan dengannya (al-Musyabbah bih), dalam contoh di atas ialah “singa”.
  3. Aspek/sifat yang diserupakan (wajah al-Syabah), dalam contoh di atas ialah “keberanian”
  4. Kata yang digunakan menyerupakan (adat al-Tasybih), dalam hal ini “laksana”. Menurut Quraish Shihab, kata “laksana” ini bias terucapkan bias juga tidak. Yang penting terlintas dalam benak.

Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa keempat unsur tersebut tidak selalu keempatnya terdapat dalam tasybih. Dapat dikatakan bahwa peringkat terendah dari tasybih adalah yang sempurna keempat unsurnya, yang lebih tinggi dari ini adalah yang tidak disebut salah satu unsurnya, lalu dua unsurnya, lalu tiga unsurnya, sehingga yang tersisa adalah musyabbah bih.

Pembagian Tasybih

Jalal al-Din al-Suyuthi,[5] dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa tasybih dapat dibagi berdasarkan beberapa aspek, di antaranya :

  1. Berdasarkan dua sisinya. Dalam hal ini tasybih dibagi kepada empat pembagian : yaitu hissiyan (Sama-sama hissi atau dapat dijangkau pancaindera), Aqliyan (Sama-sama hanya mampu dijangkau akal), musyabbah bih Hissi sedangkan musyabbah aqli, atau kebalikannya.

Contoh yang pertama,

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

Artinya : “Dan telah kami tetapkan peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua”. (QS. Yasin : 39)[6]

Dan ayat,

تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ

Artinya : “Yang membuat manusia bergelimpangan, mereka bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya”. (QS. Al-Qamar : 20)

Contoh yang kedua,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar dari padanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqarah : 74)[7]

 

Contoh yang ketiga,

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Artinya : “Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS. Ibrahim : 18)[8]

 

Contoh yang keempat,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya : “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan isterimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 187)[9]

 

  1. Berdasarkan wajah syabah, tasybih terbagi kepada mufrad dan murakkab

Contoh yang Murakkab,

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Jumu’ah : 5)[10]

  1. Berdasarkan yang lain terbagi kepada :

Pertama, menyamakakan sesuatu yang terjadi dalam pancaindera dengan sesuatu yang tidak terjadi, dengan berpedoman pada pengetahuan lawannya (naqidh dan dhid), maka sesungguhnya pengetahuan keduanya lebih kuat dari pada pengetahuan pancaindera.

طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

Artinya : “Mayangnya seperti kepala-kepala setan”. (QS. Al-Shaffat : 65)[11]

Kedua, Kebalikannya, yaitu menyamakan sesuatu yang tidak terjadi menurut pancaindra dengan suatu yang terjadi.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya : “Dan orang-orang yang kafir perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (QS.al-Nur : 39)[12]

Ketiga, mengeluarkan sesuatu yang tidak berlaku menurut ada kepada sesuatu yang berlaku menurut adat.

وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آَتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Dan ingatlah ketika kami mengangkat gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu naungan awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan kami firmankan kepada mereka), “Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang bertakwa”. (QS. Al-A’raf : 171)[13]

 

Keempat, mengeluarkan sesuatu yang tidak diketahui dengan materinya dengan sesuatu yang dapat diketahui.

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Artinya : “Berlomba-lombalah kamu mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah. Yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al-Hadid : 21)[14]

 

Kelima, mengeluarkan susuatu yang tidak memiliki kekuatan dalam sifat terhadap sesuatu yang memiliki sifat dengannya.

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآَتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ

Artinya : “Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung”. (QS. Al-Rahman : 24)[15]

 

  1. Berdasarkan aspek yang lain, tasybih juga terbagi kepada muakkad dan Muakkad yaitu yang dihapuskan adatnya. Seperti,

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

Artinya : “Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang menciptakan dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Naml : 88)[16]

 

Sedangkan mursal ialah yang tidak dihilangkan adatnya.

Tujuan Tasybih

Menurut Quraish Shihab,[17] di antara tujuan tasybih ialah :

  1. Menjelaskan sifat dan keadaan al-Musyabbah, seperti QS. Al-‘Ankabut : 41,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui[18]

  1. Menjelaskan dan memantapkan keadaan al-Musyabbah, seperti QS. Al-Baqarah : 74,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar dari padanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan[19]

  1. Memperindah al-Musyabbah, seperti QS. Al-Waqi’ah : 22-23, yang melukiskan keindahan dan kesucian (حور عين) yaitu makhluk-makhluk surgawi atau bidadari :

وَحُورٌ عِينٌ (22) كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

Artinya : “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah. Laksana mutiara yang tersimpan baik[20]

  1. Menonjolkan keburukan al-Musyabbah, seperti gambaran sikap orang-orang kafir dalam QS. Al-Baqarah : 171 :

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Artinya : “Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti“[21]

Ayat ini menyerupakan orang-orang kafir yang menyeru atau bermohon kepada berhala-berhala yang mereka sembah seperti halnya penggembala yang menyeru binatang-binatang gembalaannya. Menurut Quraish Shihab,[22] binatang-binatang itu sekedar mendengar panggilan dan melihat penggembalanya, tetapi mereka pada hakikatnya tuli, tidak mendengar sehingga tidak dapat memperkenankan permintaan mereka. Berhala-berhala itu juga bisu, tidak dapat menyampaikan sesuatu kepada mereka.

Dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Mishbah,[23] Quraish Shihab menjelaskan penafsiran ayat tersebut, bahwa perumpamaan orang yang menyeru orang-orang kafir kepada kebenaran adalah seperti penggembala yang berteriak. Rasul atau para juru dakwah diibaratkan dengan penggembala, sedangkan orang-orang kafir diumpamakan bagaikan binatang. Keduanya mendengar suara panggilan dan teriakan, tetapi tidak memahami atau tidak dapat memanfaatkan suara panggilan itu.

Bahkan, penulis Tafsir al-Mishbah ini menguraikan bahwa ayat ini dapat juga berarti orang-orang itu, dalam ibadah dan doa mereka kepada tuhan-tuhan mereka, seperti penggembala yang berteriak kepada binatangnya yang tidak mendengar. Di sini, orang-orang kafir itu diibaratkan dengan penggembala dan tuhan-tuhan mereka yang mereka sembah diibaratkan serupa dengan binatang-binatang.

 

  1. PENUTUP

 

Dari penjelasan yang penulis kemukakan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Amtsal al-Qur’an ialah menonjolkan makna dalam bentuk (perkataan) yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas”.
  2. Amtsal terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu :

 

  1. Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih (penyerupaan).
  2. Amtsal kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamtsil, tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam redaksinya singkat padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
  3. Amtsal mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal.
  4. Tasybih ialah menyamakan sesuatu dengan yang lain karena kesurupaan yang muncul dalam keduanya
  5. Unsur-unsur yang terkandung di dalam tasybih ialah :
  6. Yang diserupakan (al-Musyabbah), dalam contoh tadi ialah si “A”.
  7. Yang diserupakan dengannya (al-Musyabbah bih), dalam contoh di atas ialah “singa”.
  8. Aspek/sifat yang diserupakan (wajah al-Syabah), dalam contoh di atas ialah “keberanian”
  9. Kata yang digunakan menyerupakan (adat al-Tasybih), dalam hal ini “laksana”. Menurut Quraish Shihab, kata “laksana” ini bias terucapkan bias juga tidak. Yang penting terlintas dalam benak.
  10. Tujuan tasybih ialah :
  11. Menjelaskan sifat dan keadaan al-Musyabbah
  12. Menjelaskan dan memantapkan keadaan al-Musyabbah
  13. Memperindah al-Musyabbah
  14. Menonjolkan keburukan al-Musyabbah, seperti gambaran sikap orang-orang kafir

[1] Jalal al-Din al-Suyuthi, op. cit., hal. 114

[2] Ali al-Jarim dan Mushthafa Amin, al-Balaghah al-Wadhihah, (Mesir : Dar al-Ma’arif, t.th), hal. 20

[3] M. Quraish Shihab, op. cit.,, hal.146-147

[4] Ibid.

[5] Jalal al-Din al-Suyuthi, op. cit., hal. 115-117

[6] Departemen Agama RI, op. cit., hal. 629

[7] Ibid., hal. 14

[8] Ibid., hal. 348

[9] Ibid., hal. 36

[10] Ibid., hal. 808

[11] Ibid., hal. 38

[12] Ibid., hal. 495

[13] Ibid., hal. 232

[14] Ibid., hal. 788

[15] Ibid., hal. 774

[16] Ibid., hal. 542

[17] M. Quraish Shihab, hal. 148-149

[18] Departemen Agama RI, op. cit., hal. 565

[19] Ibid., hal. 14

[20] Ibid., hal. 780

[21] Ibid., hal. 32

[22] Quraish Shihab, op. cit., hal. 149

[23] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati, 2002, cet.1, Vol. 1, hal. 460

Belum ada Komentar untuk AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian ketiga)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian ketiga)

ujang foto

AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH

T 21 Januari 2017 F , A admin

Oleh. Ujang. (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang PENDAHULUAN Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam kehidupan, agar mereka selalu hidup sesuai dengan petunjuk dan aturan ciptaan Allah. Untuk memudahkan manusia mengenal petunjuk tersebut, maka... Selengkapnya

Lapis-lapis Keberkahann

Tabaarakallaah, Sebaik-baik Pencipta (Bag. Kedua)

T 11 Januari 2015 F A admin

sambungan bagian pertama…..dari tulisan tabaarakallaah, sebaik-baik Pencipta. Betapa kerdil manusia di hadapan-Nya yang Mutakabbir. Betapa degil manusia di hadapan-Nya yang Mushawwir. Betapa pandir manusia di hadapan-Nya yang ‘Aliim. Betapa kikir manusia di hadapan-Nya yang Kariim. “Bacalah dengan asma Rabbmu yang... Selengkapnya

buat website

AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian Kedua)

T 21 Januari 2017 F , A admin

Oleh. Ujang (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang) Jenis Amtsal dalam al-Qur’an Menurut Manna’ al-Qathan,[1] Amtsal di dalam al-Qur’an ada tiga macam : amtsal musharrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah. Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal atau... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

STATISTIK PENGUNJUNG

Statistik Pengunjung sejak 4 Januari 2016

Online : 2
Hari ini : _
Bulan ini : _
Total : _