Beranda » KAJIAN AGAMA » AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian Kedua)

AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian Kedua)

T Diposting oleh pada 21 Januari 2017
F Kategori ,
b Belum ada komentar
@ Dilihat 1490 kali

buat websiteOleh. Ujang

(Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

  1. Jenis Amtsal dalam al-Qur’an

Menurut Manna’ al-Qathan,[1] Amtsal di dalam al-Qur’an ada tiga macam : amtsal musharrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah.

  1. Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih (penyerupaan). amtsal seperti ini banyak yang ditemukan dalam al-Qur’an, beberapa di antaranya :
  • Tentang orang munafik :

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ. صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ. أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ. يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Artinya : “Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api,setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali. atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai kegelapan, petir dan kilat. mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, (menghindari) suara petir itu, karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah : 17-20)[2]

Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang munafik, matsal yang berkenaan dengan api (nar) dalam firman-Nya “adalah seperti orang yang menyalakan api” karena di dalam api terdapat unsur cahaya. Matsal yang lain adalah berkenaan dengan air (ma’i), atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, karena di dalam air terdapat materi kehidupan. Dan wahyu yang turun dari langit pun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya

  1. Amtsal kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamtsil, tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam redaksinya singkat padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Contohnya :
  • Ayat-ayat yang senada dengan suatu ungkapan “sebaik-baik perkara yang tidak berlebihan, adil, dan seimbang.” Yaitu :
  1. Firman Allah tentang sapi betina : “Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu.

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا فَارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

Artinya : “Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina)  itu.”Dia (Musa) menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. (al-Baqarah : 68)[3]

  1. Firman-Nya tentang nafkah :

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan : 67).[4]

 

  1. Firman-Nya mengenai shalat :

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

Artinya : “Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul Husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan pula merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (al-Isra’: 110).[5]

  1. Firman-Nya mengenai infaq :

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Artinya : “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu mengulurkannya (sangat pemurah)nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. al-Isra’ : 29).[6]

 

  • Ayat yang senada dengan ungkapan “orang yang mendengar itu tidak sama dengan yang menyaksikannya sendiri.” Misalnya firman Allah tentang Ibrahim : “Allah berfirman, “apakah kamu belum percaya ? Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.” (QS. al-Baqarah : 260)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati” Allah berfirman : “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia Allah berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah maha perkasa, maha bijaksana.”[7]

 

  • Ayat senada dengan ungkapan “seperti yang telah kamu lakukan, maka seperti itu kamu akan dibalas.” Misalnya, “Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa’ : 123)

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا

Artinya : (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu, dan bukan  (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu dan ia tidak akan mendapatkan  pelindung dan penolong selain dari Allah. (an-Nisa’ : 123)[8]

  • Ayat yang senada dengan ungkapan “ orang mukmin tidak akan masuk dua kali lubang yang sama.” Misalnya firman Allah swt melalui lisan Ya’kub : (QS. Yusuf : 64).

 

قَالَ هَلْ آَمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Artinya : “Dia (Ya’qub) berkata : “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia maha penyayang di antara para penyayang.”[9]

 

  1. Amtsal mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal. Seperti :
  • “Sekarang ini jelas kebenaran itu”

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَالَتِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ الْآَنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

Artinya : “Dia (raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu), “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” Mereka berkata, “Maha sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Isteri Al-Aziz berkata,” Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf : 51)[10]

 

  • “Tidak ada yang akan bisa menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah.”

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ

Artinya : “Tidak ada yang akan dapat mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah.” (QS. al-Najm : 58)[11]

 

  • “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).”

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا وَأَمَّا الآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ قُضِيَ الأمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ.

Artinya : “Hai kedua penghuni penjara, “Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).” (QS. Yusuf : 41)[12]

 

  • Bukankah subuh itu sudah dekat ? (QS. Hud : 81)

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Artinya : “Mereka (para malaikat) berkata, “Wahai Lut! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah bersama keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorangpun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”[13]

  • “Tiap-tiap khabar berita mempunyai masa yang menentukannya (yang membuktikan benarnya atau dustanya); dan kamu akan mengetahuinya.”

لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Artinya : Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.”  (QS. al-An’am : 67)[14]

 

  • “Dan rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencakanannya sendiri.” (QS. Fathir : 43)

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

Artinya : “Karena kesombongan mereka di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu.”[15]

 

 

 

  1. Faedah-faedah Amtsal

Ayat-ayat yang ditampilkan dalam pola amtsal memiliki faedah yang sangat banyak. Beberapa pakar ‘Ulum al-Qur’an berusaha menjelaskan sebagian besar maknanya dengan berbagai pendekatan yang mereka lakukan. Al-Zarkasyi,[16] dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an saat menguraikan amtsal juga menuliskan sebagian manfaat yang dapat diambil dari ayat-ayat pola amtsal ini, di antaranya peringatan, pengajaran, motivasi, larangan, i’tibar (pelajaran), penetapan, menertibkan yang dimaksud terhadap akal dan menggambarkannya dalam bentuk yang dapat dijangkau oleh pancaindera.

Sedangkan dalam kitabnya, Manna’ Khalil al-Qathan,[17] mengemukakan peranan amtsal secara luas yang disimpulkannya sebagai berikut :

  1. Menggabarkan sesuatu yang ada dalam pikiran secara konkrit yang dapat disentuh manusia, sehingga dapat diterima akal, karena makna yang abstrak akan mantap dalam pikiran bila dikonkritkan. Contohnya dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 264 yang menggambarkan keadaan orang yang berinfak karena riya.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya : Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah : 264)[18]

 

  1. Mengungkapkan berbagai hakikat, menampilkan yang ghaib bagaikan sesuatu yang ada, seperti al-Qur’an menggambarkan orang yang makan riba pada firman Allah surat al-Baqarah ayat 275.
  2. Menyatukan makna-makna yang indah memukau melalui ungkapan pendek seperti terdapat pada amtsal kaminah dan
  3. Memotivasi untuk orang yang membaca atau yang mendengar untuk mengikuti apa yang tedapat pada amtsal. Contohnya perumpamaan Allah bagi orang yang bernafkah dijalan Allah dalam firman Allah surat al-Baqarah ayat 261.

 

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”[19]

 

  1. Memotivasi untuk menjauhkan diri dari sesuatu yang dibenci yang terdapat dalam amtsal, seperti firman Allah tentang larangan ghibah firman Allah surat al-Hujurat ayat 12,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima tobat, maha penyayang”[20]

 

  1. Untuk memuji orang yang diberi amtsal seperti firman-Nya tentang para sahabat surat al-Fath ayat 29.

 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya : “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.”[21]

 

  1. Memberikan celaan terhadap orang yang berisfat buruk yang terdapat dalam amtsal. Seperti Allah mengemukakan keadaan orang-orang yang telah diturunkan kitab kepada mereka, tetapi mereka tidak beramal dengan ayat-ayat Allah itu, seperti pada firman Allah surat al-‘Araf ayat : 175-176.

 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ  وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang-orang yang telah kami berikan ayat-ayat kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan sekiranya kami menghendaki niscaya kami tinggikan (derajat) nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya juga. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah cerita itu agar mereka berpikir.”[22]

 

  1. Perumpamaan itu paling berbekas di hati, paling berkesan dalam pelajaran, paling keras dalam mencela, Allah memperbanyak amtsal dalam al-Qur’an sebagai pernyataan dan pelajaran, seperti firman Allah surat al-Zumar ayat 27.

 

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya : Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.[23]

[1] Manna’ Khalil al-Qathan, op. cit.,  hal. 284-287

[2] Departemen Agama RI, op. cit.,  hal. 4

[3] Ibid., hal.13

[4] Ibid.,  hal. 511

[5] Ibid., hal. 400

[6] Ibid., hal.388

[7] Ibid., hal. 54

[8] Ibid., hal. 128

[9] Ibid., hal. 327

[10] Ibid., hal. 325

[11] Ibid., hal. 767

[12] Ibid., hal. 323

[13]Ibid. , hal. 310

[14] Ibid., hal. 182

               [15] Ibid., hal. 623

[16] Al-Imam Badr al-Din al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Kairo : Dar al-Hadits, 2006), hal. 326

[17] Manna’ Khalil al-Qathan, hal. 287-289

[18] Departemen Agama RI, Op. cit., hal. 55

[19] Ibid., hal. 55

[20] Ibid., hal. 745

[21] Ibid., hal. 742

[22] Ibid., hal. 233

[23] Ibid., hal. 633

(Bersambung ke bagian ketiga)

Belum ada Komentar untuk AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian Kedua)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian Kedua)

toko website

AMTSAL AL-QUR’AN DAN TASYBIH (Bagian ke-3)

T 26 Juli 2017 F , A admin

Oleh. Ujang (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)   Makna Tasybih Jalal al-Din al-Suyuthi menjelaskan dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an beberapa pendapat yang dikemukakan ulama tentang pengertian tasyhbih, di antaranya :[1] Sekelompok (jamaah), di antaranya ialah al-Sukaki mendefinisikan sebagai :... Selengkapnya

masjid

Menjaga Sendi-sendi Syara’

T 26 Desember 2014 F A admin

Akhir-akhir ini berbagai kerisauan kembali dirasakan tokoh agama maupun tokoh masyarakat di ranah Minang. Hal ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap menurunnya eksistensi pelaksanaan ajaran agama di tengah-tengah masyarakat. Misalnya sepinya mesjid dan surau, pergaulan muda-mudi yang kian mengarah ke cara bergaul... Selengkapnya

Peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad SAW

Peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad SAW

T 3 Oktober 2016 F A admin

Oleh. Ujang (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang) A. PENDAHULUAN Nabi Muhammad SAW adalah figur, contoh, teladan dan tokoh yang paling mengagumkan dalam kehidupan umat manusia. Berbagai aspek kehididupan yang ia tempuh selalu menjadi teladan terbaik bagi umatnya. Tidak hanya... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

STATISTIK PENGUNJUNG

Statistik Pengunjung sejak 4 Januari 2016

Online : 3
Hari ini : _
Bulan ini : _
Total : _